Balanced Score Card

  1. Balanced Score Card (BSC) merupakan konsep manajemen yang mencoba mengukur kinerja organisasi secara seimbang dari berbagai perspektif dengan fokus pada keberhasilan implementasi strategi organisasi. Konsep pertama kali diperkenalkan oleh Roberts S. Kaplan dan David P. Norton sekitar satu dekade yang lalu melalui jurnal Harvard Business Reviws. Dengan memanfaatkan Balanced ScoreCard (BSC) konsep sistemik yang pada hakikatnya merupakan sistem dari sejumlah konsep manajemen kontemporer, sebuah organisasi diyakini dapat mencapai keunggulan dalam implementasi strategi organisasinya untuk mencapai posisi terbaik dalam lingkungan yang sangat cepat berubah (turbulent environment) dewasa ini.

Dalam konsep Balanced ScoreCard (BSC) ini strategi organisasi yang merupakan cara untuk mencapai visi dan misi organisasi, diuraikan dalam berbagai tujuan strategis yang dapat diukur keberhasilannya dengan adanya indikator dan target kinerja yang ingin dicapai. Ukuran keberhasilan suatu strategi organisasi atau organisasi itu sendiri dalam konsep Balanced ScoreCard (BSC) ini tidak hanya dilihat dari aspek atau perspektif keuangan saja, tetapi dapat dilihat juga dari perspektif lainnya. Dalam hal ini Kaplan dan Norton menyarankan menambahkan 3 (tiga) perspektif lain, yaitu perspektif pelanggan (customer), perspektif proses bisnis internal  (internal business process) dan perspektif pembelajaran (learning and growth). Dengan demikian, keberhasilan suatu organisasi dilihat dari berbagai sisi secara seimbang, yaitu dari kinerja masa lalu dan prospek masa depannya, dari ukuran strategis dan operasional, ukuran keuangan dan nonkeuangan, ukuran internal dan eksternal organisasi.

Prinsip dasar Balanced ScoreCard (BSC) adalah memfokuskan pada pelanggan, proses internal, pembelajaran dan pertumbuhan sekarang dan perusahaan akan mengamankan posisi finansial masa depannya.

Jika konsep Balanced ScoreCard (BSC) ini dikaitkan pada 6 nilai utama kehidupan, yaitu :

(1)   Nilai teologik atau nilai ketuhanan bahwa pencapaian keunggulan yang dicapai dalam organisasi hendaknya merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, atas prestasi sebuah kinerja. Kinerja yang unggul ini hendaknya menjadikan kita lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, karena agama merupakan tatanan normatif yang memuat nilai moral paling lengkap.

Hal ini sesuai dengan QS. Ar-Rum ayat 30 :

óOÏ%r’sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ

 

Artinya :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

 

(2)   Nilai logik (nilai yang menggunakan akal) dilakukan dengan aqliyah. Dengan demikian induk BSC adalah manajemen mutu dan manajemen strategik. Semua ini tentu saja menuntut kemampuan intelektual yang baik dan logik, agar tujuan organisasi mencapai sasaran. Sesuai dengan QS. Az-Zumar ayat 9 :

ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø‹©9$# #Y‰É`$y™ $VJͬ!$s%ur â‘x‹øts† notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu‘ ¾ÏmÎn/u‘ 3 ö@è% ö@yd “ÈqtGó¡o„ tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.x‹tGtƒ (#qä9’ré& É=»t7ø9F{$#

 

Artinya :

 (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

 

 

 

 

(3)   Nilai etik (sopan santun / etika) ; artinya ketika kita melakukan perencanaan, hendaknya juga tidak menggunakan cara-cara curang yang tidak baik, tetapi harus jujur. Hal ini sesuai dengan QS. Ali Imron Ayat 10

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. `s9 š_Í_øóè? óOßg÷Ytã óOßgä9ºuqøBr& Iwur Oèd߉»s9÷rr& z`ÏiB «!$# $\«ø‹x© ( y7Í´¯»s9’ré&ur öNèd ߊqè%ur ͑$¨Y9$# ÇÊÉÈ

 

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.

 

(4)   Nilai estetik yaitu nilai keindahan. Suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tidak dapat berjalan sendirian tetapi memerlukan pihak lain. Dan ini merupakan hal yang indah. Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 2 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#q=ÏtéB uŽÈµ¯»yèx© «!$# Ÿwur tök¤¶9$# tP#tptø:$# Ÿwur y“ô‰olù;$# Ÿwur y‰Í´¯»n=s)ø9$# Iwur tûüÏiB!#uä |MøŠt7ø9$# tP#tptø:$# tbqäótGö6tƒ WxôÒsù `ÏiB öNÍkÍh5§‘ $ZRºuqôÊ͑ur 4 #sŒÎ)ur ÷Läêù=n=ym (#rߊ$sÜô¹$$sù 4 Ÿwur öNä3¨ZtB̍øgs† ãb$t«oYx© BQöqs% br& öNà2r‘‰|¹ Ç`tã ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# br& (#r߉tG÷ès? ¢ (#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannyadan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

 

QS. Asy-Syura ayat 38 :

yìÏJàfsù äotys¡¡9$# ÏM»s)‹ÏJÏ9 5Qöqtƒ 5Qqè=÷è¨B ÇÌÑÈ

Artinya :

Lalu dikumpulkan ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang ma’lum

 

QS. Al-Baqoroh ayat 208 :

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# ’Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø‹¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Ar߉tã ×ûüÎ7•B ÇËÉÑÈ

 

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

 

(5)   Nilai fisiologis yaitu nilai kebendaan ini saya gambarkan dengan rasa kepuasan terhadap kinerja. Jika kinerjanya bagus maka balikannya pada peningkatan finansial.

(6)   Nilai theologik yaitu nilai kegunaan, kebermanfaatan, kebermaknaan dalam memperoleh hasil yang lebih baik. Dengan demikian kesejahteraan diharapkan dirasakan oleh para pelaku organisasi.

 


 

  1. Balanced ScoreCard (BSC) diyakini dapat mengubah strategi menjadi tindakan, menjadi strategi sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yang lebih baik antar karyawan dan manajemen, meningkatkan mutu pengambilan keputusan, dan memberikan informasi peringatan dini, serta mengubah budaya kerja. Potensi untuk mengubah budaya kerja ada karena dengan Balanced ScoreCard (BSC) perusahaan lebih transparan, informasi dapat diakses dengan mudah, pembelajaran informasi dipercepat, umpan balik menjadi objektif, terjadwal, dan tepat untuk organisasi dan individu dan membentuk sikap mencari konsensus karena adanya perbedaan awal dalam menentukan sasaran, langkah-langkah strategis yang diambil dan ukuran yang digunakan.

Dalam rangka mengubah budaya kerja, lembaga pendidikan sekolah menerapkan manajemen yang disebut MBJ.

Pendekatan Balanced ScoreCard (BSC) merupakan sebuah sistem pengukuran kinerja yang komprehensif, yang mampu memanfaatkan informasi multidimensional dalam empat perspektifnya dalam rangka proses perumusan dan implementasi strategi. Bahkan dalam kenyataannya Balanced ScoreCard tidak saja digunakan sebagai pengukuran kinerja, namun lebih jauh diaplikasikan dalam rangka sistem manajemen strategis yang melakukan pendekatan proses-proses manajemen secara integratif, sehingga mengedepankan secara bersama-sama seluruh proses manajemen yang mencakup planning, implementing, dan controlling. Hal tersebut juga relevan apabila diaplikasikan dalam tahapan evaluasi dan pengendalian kinerja, sebagai bagian dari siklus manajemen strategis dalam rangka pemberdayaan implementasi manajemen berbasis sekolah.

Model pemberdayaan implementasi manajemen berbasis sekolah dengan pendekatan manajemen strategis dan Balanced ScoreCard digambarkan di bawah ini.

 

 

 

Model pemberdayaan implementasi MBS dengan pendekatan manajemen strategis da Balanced ScoreCard (BSC)

 

Perspektif pelanggan

Analisis      eksternal

Perspektif proses dan produk

Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan

Perspektif finansial / finansial operasional

Impemenetasi strategi program anggaran dan prosedur

 

PERENCANAAN

STRATEGIS

 

Pengamatan lingkungan eksternal, internal

Pengamatan strategi, misi, tujuan, strategi, dan kebijakan

 

KEMANDIRIAN

PARTISIPASI MASYARAKAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam Balanced ScoreCard (BSC) adalah dua jenis pengukuran yang dilakukan, yaitu pengukuran outcome kinerja dan pengukuran pengendali kinerja. Sistem BSC yang baik akan selalu menggunakan kombinasi pengukuran outcome dan pengukuran pengendali kinerja yang disesuaikan dengan tujuan strategis organisasi. Sehingga dalam mengukur pelaksanaan kinerja rencana kerja sekolah, berdasarkan empat perspektif BSC, maka salah satu pengukuran kinerja sekolah dapat dilakukan sebagai berikut :

 

 

 

 

Pengukuran kinerja sekolah dengan pendekatan Balanced ScoreCard (BSC)

Tujuan Strategis

Pengukuran Strategis

Outcome

Pengendali Kinerja

Perpektif keuangan :

 

Meningkatkan pemerataan layanan pendidikan dengan subsidi pembiayaan pendidikan anak dari keluarga tak mampu

Jumlah anak yang sekolah dari keluarga tak mampu meningkat

 

 

 

APK / APM meningkat

Survey dan pendataan penduduk keluarga tak mampu

 

 

 

Survey dan pendataan pendidikan di sekolah

 

Perpektif pelanggan :

 

Meningkatnya pemberian layanan pendidikan yang berkualitas oleh sekolah kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu

 

Angka DO dan mengulang menurun

 

 

 

Angka melanjutkan meningkat

Survey dan pendataan pendidikan di sekolah

 

 

 

Survey dan pendidikan di sekolah

Perspektif proses   internal :

 

Meningkatkan daya tampung dan sarana / prasarana sekolah untuk menampung anak-anak dari keluarga tidak mampu yang disubsidi oleh pemerintah

 

Meningkatnya daya tampung sekolah

 

 

 

 

Meningkatnya rombongan belajar di sekolah

Rasio murid : ruang kelas

 

 

 

 

 

Rasio murid : rombongan belajar

Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan :

 

Mengembangkan kreativitas guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang berkualitas dan terjangkau biaya

 

Meningkatnya kreativitas guru

 

 

 

 

Meningkatnya metode pembelajaran

Rasio murid : guru

 

 

 

 

 

Rasio alat peraga : murid

 

  1. Menyusun Balanced ScoreCard (BSC) bukanlah pekerjaan yang mudah, banyak organisasi gagal membuat BSC karena berbagai sebab. Sebab-sebab itu antara lain :

(1)   Tidak ada komitmen pimpinan

(2)   Terlalu sedikit staf terlibat

(3)   Score card disimpan saja

(4)   Adanya proses penyusunan yang lama dan sekali jadi.

(5)   Menganggap BSC sebuah proyek

(6)   Kesalahan memilih konsultan

(7)   Menggunakan BSC hanya untuk pemberian kompensasi.

 

  1.  


 

  1. 5.      Tahapan penyusunan rencana dalam Balanced ScoreCard (BSC),  meliputi :
  2. a.      Perumusan Strategi

Tahap ini ditujukan untuk menghasilkan visi, misi, keyakinan dan nilai dasar, serta tujuan institusi. Proses perumusan strategi dilakukan secara bertahap, yaitu : analisis eksternal, analisis internal, penentuan jati diri, dan perumusan strategi.

1)      Analisis internal dan eksternal

  • Analisis internal ditujukan untuk merumuskan kekuatan dan kelemahan organisasi, meliputi : kompetensi yang unik, sumber daya keuangan yang memadai biaya. Sedangkan kelemahan organisasi, antara lain tidak ada arah strategi yang jelas, posisi persaingan yang kurang baik, fasilitas kurang memadai, kesenjangan kemampuan manajerial, lini produk yang sempit, citra yang kurang baik dan lain-lain.
  • Analisis eksternal meliputi analisis lingkungan makro dan mikro bertujuan mengidentifikasi peluang dan ancaman makro yang berdampak terhadap volue yang dihasilkan organisasi kepada pelanggan, meliputi kekuatan politik dan hukum, kekuatan ekonomi, kekuatan teknologi, kekuatan sosial dan faktor demografi.

2)      Penentuan jati diri

Penentuan jati diri organisasi terdiri atas visi, misi, keyakinan dasar, nilai dan tujuan organisasi.

  • Visi : Dirinci dalam berbagai perpektif
  • Misi : Menjelaskan lingkup, maksud atas batas program kegiatan organisasi, misi ditulis sederhana ringkas dan fokus
  • Keyakinan dasar adalah pernyataan yang perlu dipegang pimpinan dan karyawan dalam menghadapi hambaran dan ketidakpastian.
  • Nilai dasar adalah untuk membimbing manajemen dan karyawan / staf dalam memutuskan pilihan yang dapat muncul / setiap saat.
  • Tujuan adalah pernyataan tentang apa yang akan diwujudkan sebagai penjabaran visi organisasi, tujuan dijabarkan dalam 4 (empat perpektif).

v  Apa tujuan yang berkaitan dengan perspektif pelanggan ?

v  Apa tujuan yang berkaitan dengan perspektif finansial ?

v  Apa proses bisnis internal yang akan mendukung pencapaian tujuan pelanggan dan finansial ?

v  Apa tujuan yang berkaitan dengan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

  1. b.      Perencanaan strategis

Perencanaan strategi meliputi proses penentuan sasaran, tolok ukur target dan inisiatif.

  • Sasaran adalah kondisi masa depan yang dituju, bersifat komprehensif sesuai dengan tujuan dan strategi, merumuskan sasaran secara koheren, seimbang dan saling mendukung.
  • Tolok ukur adalah alat untuk mengukur kemajuan sarana. Tolok ukur terdiri atas dua jenis : tolok ukur hasil (log indicator) dan tolok ukur pemacu kinerja (lead indicator) kedua tolok ukur tersebut merupakan key performance indicator. Indikator kinerja kunci harus merupakan faktor-faktor yang bisa diukur, logis dan jelas.
  • Target, berfungsi memberikan usaha tambahan tetapi tidak bersifat melemahkan semangat, berjangka waktu dua sampai lima tahun agar memberikan banyak waktu untuk melakukan terobosan dalam satu waktu dua area kunci, bergantung pada nilai (value), kesenjangan (gap), ketepatan waktu (final less), hasrat/keinginan (appetite), dan keterampilan (skill) target dapat ditentukan dengan menggunakan hasil benchmarking. Benchmarking adalah untuk mendapat informasi praktek terbaik untuk membangun suatu kasus yang jelas guna mengkomunikasikan betapa penting mencapai target-target itu.
  • Inisiatif adalah langkah-langkah jangka panjang untuk mencapai tujuan, inisiatif bersifat lintas fungsi, mengidentifikasi hal-hal penting yang harus dilakukan oleh organisasi agar mencapai tujuan harus jelas agar pimpinan dan staf / karyawan dapat menentukan rencana yang diperlukan dan memperkirakan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung pencapaian strategi secara keseluruhan.
  1. c.       Penyusunan Program

Proses penyusunan program adalah : menjabarkan inisiatif menjadi beberapa tahun yang akan datang, memperkirakan investasi yang diperlukan untuk setiap program, menghitung perkiraan penerimaan yang dapat diperoleh, dan menghitung perkiraan laba/hasil yang akan diperoleh.

  1. d.      Penyusunan Anggaran

Penyusunan anggaran bertujuan untuk menentukan kegiatan tahun berikutnya dan sumber daya yang diperlukan. Anggaran disusun berdasarkan inisiatif yang telah dirumuskan. Balanced ScoreCard (BSC) mendukung suatu sistem manajemen yang lengkap dengan mengaitkan strategi jangka panjang ke penganggaran tahunan.

  1. e.       Implementasi

Tahap ini melaksanakan kegiatan sesuai rencana.

  1. f.       Pemantauan dan Pengendalian

Tahap ini membandingkan kinerja dengan target. Berbagai kemungkinan hasil, adalah berhasil, gagal dan variasi diantara keduanya :

  • Prinsip umum pemantauan adalah mengukur kinerja, membandingkan kinerja, melakukan tinjauan ulang, memberi penghargaan dan mengidentifikasi hasil yang dicapai, mempelajari pengalaman, menyesuaikan dan menyegarkan strategi dan melakukan perbaikan.
  • Pengendalian. Jenis-jenis pengendalian adalah : pengendalian premis/asumsi dasar, pengendalian implementasi, pengawasan strategik dan pengendalian berdasarkan sinyal-sinyal khusus. Pengendalian dapat lebih mudah dilakukan dengan menggunakan Balanced ScoreCard (BSC) karena tolok ukurnya sudah diperjelas.

 

 

 

  1. Balanced ScoreCard (BSC) pada awalnya merupakan eksperimen untuk memperbaiki pengukuran kinerja eksekutif di perusahaan bermotif laba. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Balanced ScoreCard diterapkan secara efektif sebagai inti sistem manajemen strategik di tipe organisasi apa saja : organisasi bermotif laba, organisasi  sektor publik, dan organisasi nirlaba.

Sistem terpadu pengelolaan kinerja personel berbasis Balanced ScoreCard dapat diterapkan secara efektif di organisasi sektor publik dan organisasi nirlaba. Alasannya adalah :

  1. Semua organisasi didirikan dengan misi tertentu untuk mewujudkan visi tertentu. Untuk mewujudkan visi melalui misinya, organisasi memerlukan strategi untuk mengerahkan dan mengarahkan seluruh sumber dayanya. Misi, visi dan strategi organisasi kemudian diterjemahkan ke dalam sasaran dan inisiatif strategik untuk menghasilkan action plans.
  2. Semua organisasi dituntut untuk menghasilkan kinerja yang berupa keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran-sasaran strategik yang telah ditetapkan melalui insiatif strategik pilihan.
  3. Semua organisasi membentuk pusat-pusat pertanggungjawaban yang diberi peran untuk mewujudkan sasaran-sasaran strategik yang telah ditetapkan.
  4. Sesuai kontribusinya dalam mewujudkan misi organisasi, pusat pertanggungjawaban dalam semua organisasi dapat ditetapkan perannya sebagai mission center atau service center.

Agar efektif, penerapan sistem terpadu pengelolaan kinerja personel berbasis Balanced ScoreCard di organisasi bermotif laba, organisasi sektor publik, dan organisasi nirlaba harus memenuhi kaidah berikut ini :

  1. Kinerja pusat pertanggungjawaban dan personel harus ditetapkan secara komprehensif dalam perwujudan sasaran strategik organisasi. Pusat pertanggungjawaban diukur kinerjanya secara strategik. Leverage pengukuran kinerja diletakkan pada intangible assets.
  2. Pusat pertanggungjawaban ditentukan perannya dalam menyediakan value bagi customer (baik customer eksternal maupun internal). Oleh karena itu, pusat pertanggungjawaban dalam organisasi ditetapkan perannya sebagai : (1) mission center, atau (2) service center.
  3. Kinerja mission center dan service center diukur secara komprehensif di empat perspektif : keuangan, customer, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
  4. Peran dan kompetensi inti mission center, service center, dan team and personal ditetapkan melalui proses cascading company scorecard ke mssion center scorecard, cascading mission center scorecard ke service center scorecard, cascading mission center scorecard dan service center scorecard ke team and personal scorecard.
  5. Sistem pengharagaan didesain berbasis kinerja. Pendesainan sistem penghargaan berbasis kinerja ini ditujukan untuk menegaskan kepastian bahwa kinerja personel akan diberi penghargaan. Kepastian bahwa kinerja akan diberi penghargaan ditujukan untuk meningkatkan usaha personel dalam menghasilkan kinerja.
  6. Penghargaan didistribusikan kepada personel berdasarkan hasil pengukuran penilaian kinerja. Penghargaan didistribusikan secara adil untuk membangun kepuasan personel atas penghargaan, sehingga penghargaan akan meningkatkan usaha personel dalam menghasilkan kinerja.
  7. Pengukuran kinerja digunakan untuk memastikan bahwa setiap pusat pertanggungjawaban dan personel melakukan alignment berkelanjutan terhadap misi, visi, tujuan, keyakinan dasar, nilai dasar dan strategi organisasi  secara keseluruhan.
    1.  

 

 

  1. Langkah-langkah dalam personal ScoreCard terdiri atas dua tahap utama yaitu : tahap perencanaan dan tahap pengimplementasian rencana.

Tahap perencanaan terdiri atas empat tahap, yaitu :

  1. Perumusan strategi (strategy formulation)
  2. Perencanaan strategik (strategic planning)
  3. Penyusunan program (programming)
  4. Penyusunan anggaran (budgeting)

Tahap pengimplementasian rencana terdiri atas dua tahap, yaitu :

  1. Pengimplementasian (implementation)
  2. Pemantauan (monitoring)

Perencanaan strategis disadari sebagai proses kreatif, selain proses perencanaan praktis untuk perubahan komunitas. Dengan adanya rencana strategis akan diperoleh blueprint untuk perubahan yang menjadi dasar menentukan perubahan seperti apa yang akan dilakukan sampai beberapa tahun ke depan, dan juga bagaimana dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut. Memang tidak ada rumus praktis untuk membuat rencana strategis, setiap institusi tentu memiliki kekhasan yang merupakan hasil dari proses panjang pembentukan budaya organisasi.

Perencanaan strategik penting dilakukan / disusun untuk memberi arah dan bimbingan para pengelola perguruan tinggi dalam rangka menuju perubahan atau tujuan yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan risiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan. Tanpa perencanaan pendidikan yang baik akan menyebabkan ketidakjelasan tujuan yang akan dicapai, risiko besar dan ketidakpastian dalam menyelenggarakan semua kegiatan pendidikan. Penyusunan rencana strategis ini dilakukan untuk dapat membuat kejelasan dalam pencapaian tujuan organisasi yang terartikulasikan dalam visi dan misi.

Perencanaan strategik pendidikan adalah proses penyusunan gambaran kegiatan di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan / tujuan yang telah ditetapkan. Pengertian ini menunjukkan bahwa perencanaan strategik merupakan proses mengidentifikasi, mengumpulkan dan menganalisis data internal dan eksternal (esensial dan kritis) untuk memperoleh informasi terkini dan yang bermanfaat bagi penyiapan dan pelaksanaan rencana jangka panjang dan pendek dalam rangka untuk merealisasikan atau mencapai tujuan organisasi.

Perencanaan strategik pendidikan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

Memperbaiki hasil pendidikan, pembawa perubahan yang lebih baik (peningkatan / pengembangan), demand driven (prioritas kebutuhan), partisipasi, keterwakilan, data driven, realistis sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan, holistic/tersistem, transparan, dan keterkaitan serta kesepadanan secara vertikal dan horizontal dengan rencana-rencana lain.

Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan rencana strategis dapat menggunakna pendekatan Balanced ScoreCard meski dengan modifikasi pada kriteria yang dipilih oleh organisasi. Balanced ScoreCard berkembang dan hanya kerangka berfikir tentang pengukuran kinerja pada awalnya menjadi sebuah sistem perencanaan dan manajemen strategis.

Dengan konsep Balanced ScoreCard baru ini maka akan mampu mengubah perencanaan organisasi yang menarik namun berupa dokumen yang pasif, menjadi sebuah orkestra organisasi yang dinamis  dan penuh energi. Balanced ScoreCard tidak hanya menyediakan kerangka kerja untuk pengukuran kinerja, namun juga membantu perencana mengidentifikasi apa yang harus dilakukan dan diukur. Dengan demikian, pimpinan satuan pendidikan dapat dengan pasti menjalankan strategi mereka.

 

 

  1. 9.      Implementasi Balanced ScoreCard (BSC) di Sekolah

Perspektif Balanced ScoreCard (BSC)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SMAN 11 Garut sebagai contoh model implementasi Balanced ScoreCard (BSC) di sekolah.

  1. a.      Visi SMAN 11 Garut

“TERWUJUDNYA MANUSIA BERAQIDAH ISLAM YANG BERPRESTASI TINGGI BERLANDASKAN IMAN DAN TAKWA”.

Kami memilih visi ini dengan berorientasi pada tujuan jangka, panjang, menengah, dan pendek SMAN 11 Garut tersebut menjadi pedoman bagi setiap sivitas akademika SMAN 11 Garut untuk mewujudkannya dalam mencapai tujuan sekolah.

Visi SMAN 11 Garut tersebut mencerminkan profil dan cita-cita SMAN 11 Garut antara lain :

1)      Berorientasi pada keunggulan dengan memperhatikan potensi kekinian;

2)      Sesuai dengan norma dan harapan masyarakat;

3)      Bersifat pengikat bagi setiap sivitas akademika SMAN 11 Garut;

4)      Sebagai panduan bagi pelaksanaan misi SMAN 11 Garut.

 

  1. b.      Misi SMAN 11 Garut

Untuk mewujudkan visi sekolah tersebut, diperlukan suatu misi berupa kegiatan jangka panjang dengan arah yang jelas. Misi SMAN 11 Garut yang disusun berdasarkan visi di atas, antara lain sebagai berikut :

1)      Mencetak generasi Islami yang berpengetahuan dan beriman kepada Allah SWT;

2)      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk mengoptimalkan potensi siswa;

3)      Menumbuhkembangkan penghayatan dan pengamalan terhadap agama yang dianut untuk membentuk budi pekerti yang baik;

4)      Menciptakan suasana yang kondusif untuk keefektifan seluruh kegiatan sekolah;

5)      Meningkatkan profesionalisme pendidikan dan tenaga kependidikan;

6)      Mewujudkan lingkungan sekolah yang menunjang suasana pembelajaran menyenangkan (joyfull learning) yang demokratis.

7)      Mengembangkan budaya kompetitif bagi peningkatan prestasi siswa.

8)      Mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan tugas kependidikan dan keguruan.

9)      Melestasikan dan mengembangkan bidang olahraga, seni dan budaya.

10)  Mengembangkan pribadi yang cinta tanah air dan bangsa.

 

  1. c.       Tujuan SMAN 11 Garut

Berdasarkan visi dan misi sekolah, maka tujuan yang hendak dicapai SMAN 11 Garut antara lain sebagai berikut :

1)      Terlaksananya tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) masing-masing komponen sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa);

2)      Terlaksananya pengembangan kurikulum, antara lain :

  1. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2010.
  2. Mengembangkan pemetaan SK, KD dan indikator untuk kelas X, XI dan XII pada tahun 2010.
  3. Mengembangkan RPP untuk Kelas X, XI dan XII pada semua mata pelajaran.
  4. Mengembangkan sistem penilaian berbasis kompetensi.

3)      Sekolah mencapai standar isi (kurikulum) pada tahun 2011

4)      Sekolah akan standar proses pembelajaran pada tahun 2010 / 2011 antara lain :

a)      Melaksanakan pembelajaran dengan strategi CTL

b)      Melaksanakan pendekatan belajar tuntas

c)      Melaksanakan pembelajaran inovatif

5)      Terlaksananya tata tertib dan segala ketentuan yang mengatur operasional sekolah

6)      Memperoleh selisih Nilai Ujian Nasional atau NUN (gain score achievement) 0,5 (dan 7,0 menjadi 7,5);

7)      Pemantapan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

8)      Peningkatan prestasi akademik (komputer / TIK) dan keagamaan) serta non akademiik (sanggar seni, marching band, klub OR, dan lain-lain)

9)      Lingkungan sekolah yang menyenangkan “Hidup sehat  ramah lingkungan” yang menunjang “joyfull learning” yang demokratis.

10)  School based management dalam berbagai aspek kehidupan warga sekolah serta pemberdayaan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan.

11)  Tercipta hubungan antar warga sekolah yang santun dan ramah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGUKURAN KINERJA

 

Pangsa

Pasar

Profitabilitas

Pelanggan

Retensi

Pelanggan

Akuisisi

Pelanggan

Kepuasan

Pelanggan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perspektif Pelanggan : Tolok Ukur Utama

(sumber : Robert S. Kaplan dan David P. Norton, 2000 : 60)

 

Dalam sebuah sekolah, sekolah perlu mengadakan penelitian terhadap prestasi mengajar, yang aman bertujuan untuk memacu semangat mengajar guru. Secara umum penilaian prestasi mengajar dapat diartikan sebagai suatu evaluasi yang dilakukan secara periodik dan sistematis tentang prestasi mengajar (job performance) seorang tenaga guru, termasuk potensi pengembangannya.

  1. a.      Job standard > job performance

Tenaga kependidikan yang berada di bawah standar, yang artinya kemampuan tenaga pengajarnya tesebut di bawah standar tugas yang diberikan.

  1. b.      Job standard = job performance

Tenaga kependidikan yang kemampuannya sesuai standar tugasnya.

  1. c.       Job standard < job performance
  2. Tenaga kependidikan yang kemampuannya berada di atas standar.

 

Penilaian prestasi menagjar mempunyai beberapa tujuan diantaranya :

1)      Memelihara prestasi mengajar

2)      Mengukur dan meningkatkan prestasi belajar

3)      Menentukan kebutuhan akan pelatihan (training need)

4)      Sebagai dasar pengembangan karier

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Kerangka Kerja

 

 

 

Hasil

Resensi

Pekerja

Produktivitas Kerja

Kepuasan Kerja

Kompetensi Staf

Infrastruktur Teknologi

Iklim untuk bertindak

 

Ukuran inti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Faktor yang mempengaruhi

 

 

 

 

 

 

 

 

(Sumber : Robert Kaplan dan David P. Norton, 2000 : 112)

 

Untuk mencapai tujuan tercapainya tenaga kependidikan yang terlatih perlu diadakan pelatihan tenaga guru yang dibarengi oleh motivasi yang baik dari kepala sekolah. Melalui Workshop penyusunan program sekolah selanjutnya di pleno dalam rapat paripurna warga sekolah “stakeholder” yang setiap awal tahun dilaksanakan sebagai implementasi dari “School Based Management” telah menetapkan sasaran program, baik untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

SMA STRATEGY MAP

PERSPEKTIF

SASARAN

 

Keuangan publik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Customer

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses internal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembelajaran dan

pertumbuhan

 

Penguatan Human Kapital

Penguatan Information Kapital

Penguatan organizational capital

Mengendalikan biaya

Meningkatkan cakupan pelayanan

SKEMA PENINGKATAN NILAI & DAYA TARIK

BAGI CUSTOMER

(Customer Value Proposionalition)

Tarif kualitas ketersediaan produk / jasa fungsional pelayanan, kemitraan

 

PENYEMPURNAAN PROSES INTERNAL

MANAJEMEN OPERASI

Nilai / benefit bagi SMA

 

PENINGKATAN KAPABILITAS DAN KETERAMPILAN GURU

 

INOVASI

MANAJEMEN CUSTOMER

Meningkatkan pendapatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sasaran program dimaksud untuk mewujudkan VISI dan MISI sekolah. Sasaran program tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan strategi pelaksanaan yang wajib dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah sebagai berikut :

1)      Mengadakan pembinaan terhadap peserta didik, pendidik, secara berkelanjutan.

2)      Mengadakan program remedial, dan pengayaan pada mata pelajaran tertentu.

3)      Melakukan kerjasama dengan pihak yang memiliki kemampuan / donatur untuk membantu pembiayaan bagi peserta didik seperti anak yatim, kurang mampu dan yang berprestasi yang mempunyai semangat dan semangat  yang tinggi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

4)      Penambahan / pembangunan ruang baru seperti : Ruang Komputer, Laboratorium IPA, Ruang Multimedia

5)      Pengadaan buku penunjang

6)      Pengadaan komputer

7)      Mengintensifkan komunikasi dan kerjasama dengan orang tua

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s