TINJAUAN PENELITIAN DAHULU YANG RELEVAN (20 ABSTRAK)

TINJAUAN PENELITIAN DAHULU

YANG RELEVAN

(20 ABSTRAK)

Penelitian yang berkenaan dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan pada Madrasah Aliyah di Provinsi Jawa Barat, menurut pendapat penulis sampai sejauh ini belum pernah dilakukan. Namun, untuk memperoleh gambaran tentang posisi masalah yang diteliti dengan masalah  yang telah diteliti sebelumnya, dilakukan analisis terhadap hasil-hasil kajian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu :

  1. Penelitian Yusuf Bachtiar (2001) dengan judul: “Kesiapan Implementasi Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) di Kota dan Kabupaten Bandung,”berdasarkan data empiris/lapangan, menarik beberapa kesimpulkan sebagai berikut:
    1. Manajemen pendidikan berbasis sekolah (MPBS), baik berupa pandangan para ahli pendidikan maupun berupa pandangan para praktisi pendidikan, sampai saat ini belum dapat dibantah tentang kebaikan dan keuntungannya.
    2. Kesiapan pelaksanaan MPBS pada Dinas dan cabang Dinas Pendidikan dan Partisipasi Masyarakat (orang tua siswa dan sekolah dari jenjang SD, SLTP dan SMU) di Kota dan Kabupaten Bandung, dilihat dari aspek organisasi, kurikulum, SDM, kesiswaan, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan partisipasi masyarakat, secara keseluruhan termasuk pada kategori cukup siap.

 

  1. Penelitian Imam Santoso (2002) dengan judul : “Pengawasan Internal dengan Model ‘Patok Duga’ di SMU Puragabaya Bandung”,beberapa temuan penelitiannya adalah:
    1. Aspek-aspek determinan dalam dukungan terhadap pelaksanaan pengawasan internal adalah: (1) komitmen personil sekolah, (2) dukungan badan penyelenggara dan masyarakat sekolah, dan (3) apresiasi siswa dan orang tua.
    2. Kelemahan yang dapat diidentifikasi selama pelaksanaan pengawasan internal, terutama adalah lingkungan luar sekolah khususnya pihak orang tua siswa belum cukup berhasil membangun budaya belajar siswa di rumah, sehingga budaya belajar belum menjadi kekuatan utama bagi peserta didik.

 

  1. Penelitian Dadi Permadi (1997) dalam disertasi yang berjudul: “Kepemimpinan Mandiri Kepala SD Desa Tertinggal di Kabupaten Bandung,”menyimpulkan:
    1. Kepemimpinan mandiri dengan visi yang utuh dalam membina kepercayaan dan tanggung jawab kepada bawahan dapat meningkatkan kinerja sekolah secara optimal sesuai dengan potensi dan wilayahnya.
    2. Pembinaan berdasarkan rasa persatuan di lingkungan sekolah dengan penuh kekeluargaan dapat meningkatkan pelayanan kepada siswa.
    3. Manajemen yang mengutamakan praktek, memberikan rasa percaya para guru kepada kepala sekolah.
    4. Gaya kepemimpinan mandiri melalui pengarahan, konsultasi, partisipasi dan pelimpahan wewenang sangat efektif dilaksanakan di SD desa tertinggal.

 

  1. Ahmad Syafiie (2003) dalam disertasi yang berjudul : “Strategi Pengembangan Model Madrasah Aliyah Keagamaan Unggulan,”menyimpulkan sebagai berikut:
    1. Untuk penyelenggaraan pendidikan madrasah yang mengarah pada perbaikan mutu  secara berkesinambungan, diperlukan seperangkat sistem yang terintegrasi dan sinerjik antara perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam suatu keputusan yang berorientasi masa depan.
    2. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan calon ulama yang mampu melayani umat, maka Madrasah Aliyah Keagamaan harus dibangun berdasarkan visi dan misi serta strategi yang sesuai dengan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat.
  2. Penelitian Djaswidi Al-Hamdani (2003) dalam disertasi yang berjudul: “Strategi Pengembangan Model Kepemimpinan Transformasional Kepala MTs (Penelitian dan Pengembangan Kepemimpinan Kepala MTsN di Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat), antara lain menyimpulkan:
    1. Kepemimpinan kepala madrasah, jika dipandang dari konsep kepemimpinan transformasional, baru sebagian kecil atau pada hal-hal tertentu yang mengarah pada perilaku transformasional.
    2. Kesiapan untuk melakukan perbaikan kinerja MTsN belum sepenuhnya sesuai dengan harapan, beberapa yang belum tersentuh adalah perbaikan implementasi kurikulum (PBM), fasilitas/media PBM di kelas, laboratorium dan perpustakaan.
    3. c.       Kepemimpinan kepala MTsN pada umumnya belum sesuai dengan tuntutan konseptual kepemimpinan pendidikan masa depan.

 

  1. Penelitian Ahmad Kosasih (2010) dalam disertasi yang berjudul: “Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan (Strategi Peningkatan Kinerja Kepala Sekolah dan Guru melalui MKKS dan MGMP dalam pembelajaran pada SMP Negeri di Kabupaten Garut), berkesimpulan bahwa :

Temuan di lapangan dapat dideskripsikan bahwa dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, khususnya peningkatan kinerja kepala sekolah dan kinerja guru pada tiga SMP di Kabupaten Garut adalah melalui pemberdayaan MKKS dan pemberdayaan MGMP, dalam hal ini MKKS dan MGMP merupakan wadah pembinaan, pusat belajarnya kepala sekolah dan guru, puast informasi, pusat diklat, seminar, lokakarya, peningkatan kemampuan kepemimpnan, manajerial, proses pembelajaran serta peningkatan kompetensi lainnya. Faktor penghambat diantaranya : (1) Kesadaran guru itu sendiri; (2) Finansial; (3) Sarana prasarana; (4) Letak geografis antara sekolah dengan tempat tinggal. Strategi kepala sekolah dan guru dalam mengatasi hambatan : (1) Meningkatkan motivasi diantara kepala sekolah dan guru; (2) Iuran secara sukarela; (3) Mengoptimalkan MKKS dan MGMP; (4) Menjadikan sekolah-sekolah yang secara sarana prasarana lebih lengkap untuk dijadikan tempat pembinaan; (5) Membentuk keanggotaan MKKS dan MGMP disesuaikan dengan tempat tinggal kepala sekolah dan guru. Rekomendasi kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Sub Seksi SLTP, para Kepala UPTD dan para pengawas, antara lain perlu partisipasi secara optimal dari para pengambil kebijakan dan seluruh elemen pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan.

 

  1. Penelitian Aan Rohanda (2011), dengan judul : “Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan pada SMP Rintisan Standar Nasional”, berkesimpulan bahwa :

Kinerja organisasi, berfikir, berperilaku dan bertindak menarik untuk dikaji secara mendalam dalam dunia pendidikan karena berdasarkan realitas di lapangan (sekolah) belum mendapat perhatian secara optimal dari semua unsur warga sekolah. Dari semua unsur sekolah belum secara optimal tertanam cara berfikir, bertindak, berperilaku dan bertindak yang berorientasi pada mutu sebagaimana diisyaratkan dalam MMT pendidikan. Oleh karena itu menciptakan mutu pendidikan dengan menerapkan manajemen mutu terpadu menjadi sesuatu yang sangat perlu mendapat perhatian. Dengan demikian setiap sekolah dituntut untuk melaksanakan manajemen mutu secara terpadu, dengan harapan agar mutu pendidikan cepat terwujud. Dalam pelaksanaan manajemen mutu terpadu terdapat faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi terhadap pelaksanaan manajemen mutu terpadu di sekolah. Faktor pendukung dalam melaksanakan manajemen mutu di SMPN RSSN yang penulis teliti antara lain : manajemen terpusat pada pelanggan; materi pembelajaran yang disusun sudah sesuai dengan kebutuhan; sudah bersifat obsesi; sekolah telah berupaya memenuhi target; sudah menggunakan pendekatan ilmiah; memiliki komitmen yang panjang; memiliki tim yang solid. Faktor pengambat dalam pelaksanaan manajemen mutu terpadu antara lain : pendelegasian tanggung jawab dan kebijakan; team mania; proses penyebarluasan. Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam mengatasi hambatan tersebut antara lain (1) pembinaan intern sekolah; (2) pemberdayaan MGMP; (3) mengikusertakan guru dalam berbagai kegiatan pelatihan, seminar, lokakarya, dan lain-lain. Hasil yang dicapai oleh ketiga RSSN yang penulis teliti adalah masing-masing sekolah telah melaksanakan delapan standar nasional pendidikan yaitu : standar isi; proses; kelulusan; pendidik dan tenaga kependidikan; sapras; pengelolaan; pengembangan standar penilaian pendidikan.

 

  1. 8.      Penelitian Muh. Ilham (2007) dengan judul : “Manajemen Strategi Pengembangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (Studi Kasus di IPDN Jawa Barat) berkesimpulan bahwa :

Manajemen strategi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan IPDN yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dapat dilakukan secara efektif dengan prinsip demokratis, kooperatif, kreatif dan konstruktif; kinerja Badan Diklat Depdagri adalah mengembangkan program, mengadakan pengawasan, dan memberikan perhatian atas berbagai permasalahan praja; Faktor pendukungnya adalah gerakan peningkatan kualitas hidup masyarakat; budaya gotong royong dan kekeluargaan; potensi IPDN; sarana dan prasarana kampus, serta dukungan daerah.

Sehubungan dengan itu, direkomendasikan kepada berbagai pihak untuk memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan IPDN, termasuk perlu segera diwujudkan Good Governance. Dalam pada itu direkomendasikan model pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan IPDN yang lebih berpihak pada alumni dan pemberdayaan praja, dengan mendayagunakan faktor pendukung serta sarana dan prasarana yang ada secara optimal.

 

 

 

  1. 9.      Penelitian Edi Satriadi (2010) dengan judul “Efektivitas Implementasi Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan” (Studi Kasus di Universitas Bung Hatta Padang Tahun 2004 s/d 2009), dapat diambil kesimpulan bahwa :

Hasil efektivitas implementasi manajemen strategik peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan oleh pimpinan di Universitas Bung Hatta Padang ditemukan kualitasnya secara umum sangat baik, seperti faktor yang dominan dari (1) profil lingkungan strategik peningkatan mutu pendidikan, sangat baik. Terlihat karena menonjolkan tokoh ke-Bung Hatta-an sehingga masyarakat mempunyai perhatian terhadap Universitas Bung Hatta Padang; (2) formulasi visi, misi, tujuan dan program peningkatan sangat baik. Terlihat dari segi pemahaman oleh pimpinan. Yaitu : visi menjadi perguruan tinggi yang bermutu dan terkemuka. Misi universitas Bung Hatta Padang, secara umum melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Visi, misi, tujuan dan program peningkatan mutu, menggambarkan urutan secara hirarkis, logis, rasional, realitas, dan terukur (3) implementasi peningkatan mutu program pendidikan hasilnya berbeda-beda, terlihat (a) struktur organisasi, sangat baik (b) mahasiswa, sangat baik, (c) dosen, kurang baik, (d) kepegawaian, kurang baik, (e) proses belajar dan mengajar, sangat baik, (f) kurikulum dan silabus, sangat baik, (g) penelitian, kurang baik, (h) pengabdian pada masyarakat, kurang baik, (i) sistem informasi manajemen, kurang baik, (j) pembiayaan, sangat baik, (k) budaya organisasi, sangat baik, (l) laboratorium, kurang baik, (m) perpustakaan, sangat baik, dan (n) peningkatan mutu kerjasama, kurang baik.

Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan kepada : Yayasan dan pimpinan Universitas Bung Hatta melaksanakan dan menjadikan pedoman implementasi manajemen strategik dalam peningkatan mutu pendidikan : (1) Profil lingkungan stregik peningkatan mutu pendidikan, (2) Formulasi strategik visi, misi, tujuan dan program peningkatan mutu, (3) Implementasi program peningkatan mutu.

 

  1. 10.  Penelitian Hj. Enong Sofwanah (2009) dengan judul : “Kontribusi Manajemen Pembelajaran Terhadap Mutu Hasil Belajar Siswa dan Dampaknya pada Kinerja Sekolah” (Studi Peningkatan Mutu Hasil Belajar dan Kinerja Sekolah Dasar di Kabupaten Pandeglang) berkesimpulan bahwa :

Pertama, hipotesis yang menyatakan “manajemen pengembangan kurikulum berkontribusi positif dan signifikan terhadap mutu hasil belajar” diterima; kedua, hipotesis yang menyatakan “inovasi proses pembelajaran berkontribusi positif dan signifikan terhadap mutu hasil belajar” diterima; ketiga, hipotesis yang menyatakan “sistem evaluasi berkontribusi positif dan signifikan terhadap mutu hasil belajar” diterima; keempat, hipotesis berbunyi “manajemen pengembangan kurikulum, inovasi proses pembelajaran, dan sistem evaluasi secara simultan berkontribusi positif dan signifikan terhadap mutu hasil belajar” teruji diterima; kelima, hipotesis yang berbunyi “mutu hasil belajar berdampak langsung, positif dan signifikan terhadap mutu kinerja sekolah” secara statistik teruji diterima.

Implikasi hasil penelitian, adalah bahwa kepala sekolah perlu melaksanakan fungsi-fungsi manajerial dan guru idealnya ditingkatkan kompetensinya. Penelitian direkomendasikan kepada : (1) kepala sekolah untuk mempertegas visi dan misi; (2) Kepala Dinas Pendidikan untuk memaksimalkan monitoring dan evaluasi (monev); serta (3) Bupati perlu mengkampanyekan Gerakan Peningkatan Mutu Kinerja Sekolah (GPMKS) ke semua elemen masyarakat.

 

  1. 11.  Penelitian Djoemad Tjiptowardojo (2010) dengan judul disertasi : “Model Stratejik Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Swasta” (Penelitian Kualitatif Terhadap Strategi Peningkatan Mutu Universitas Widyatama di Kota Bandung) berkesimpulan bahwa :

Berdasarkan temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa untuk peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi dalam kerangka otonomi pendidikan tinggi dan globalisasi, dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen stratejik melalui penerapan strategi-strategi peningkatan mutu dosen dan staf, mutu layanan administrasi/manajemen, dan peningkatan mutu sarana dan prasarana kelembagaan. Temuan penelitian ini berimplikasi pada pentingnya : peningkatan peranan dan dukungan pihak-pihak ‘stakeholders’ lembaga terhadap program peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya peningkatan mutu dosen, administrasi/manajemen lembaga dan sarana-prasarana pembelajaran.

 

  1. 12.  Penelitian M. Ali Hasan (2010) dengan judul : “Manajemen Sekolah Bermutu” (Kontribusi Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi, Komitmen Guru dan Peran Serta Masyarakat Terhadap Mutu SMP Berkategori Rintisan Sekolah Standar Nasional di Kabupaten Indramayu) dapat diambil kesimpulan bahwa :

Perlunya pengembangan kepemimpinan kepala sekolah, budaya sekolah, komitmen guru, dan peran serta masyarakat yang berkontribusi terhadap mutu proses pembelajaran dan mutu pendidikan SMP berkategori RSSN di Kabupaten Indramayu. Pemberdayaan faktor-faktor kunci tersebut hendaknya berpijak kepada prinsip-prinsip selalu berfokus kepada pengguna jasa, keterlibatan total semua warga sekolah, ukuran baku mutu pendidikan, memandang pendidikan sebagai sistem dan perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

 

  1. 13.  Penelitian Bujang Rahman (2010) dengan judul : “Manajemen Mutu Akademik untuk Meningkatkan Produktivitas Kelembagaan” (Studi tentang Faktor-faktor Strategis yang Mempengaruhi Produktivitas LPTK di Provinsi Lampung), berkesimpulan bahwa :

Secara gabungan manajemen fasilitas, manajemen administratif, perilaku kepemimpinan, kinerja akademik dosen dan kepuasan atas kualitas manajemen berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kelembagaan. Secara parsial kepuasan atas kualitas manajemen paling besar pengaruhnya terhadap produktivitas kelembagaan. Kesimpulan penelitian bahwa keterpaduan faktor-faktor strategis manajemen fasilitas, manajemen administratif, perilaku kepemimpinan, kinerja akademik dosen dapat meningkatkan kepuasan atas kualitas manajemen untuk meningkatkan produktivitas kelembagaan.

 

  1. 14.  Penelitian Upiek Haeryah Sadkar (2009) dengan judul : “Studi Manajemen Mutu Pendidikan Kepariwisataan Berbasis Tedqual System” (Studi Kasus pada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung), berkesimpulan bahwa :

Setelah dilakukan perbandingan dengan berbagai pendekatan manajemen mutu, hasil penelitian menunjukkan bahwa TedQual System merupakan suatu pendekatan manajemen mutu yang tepat untuk diterapkan pada pendidikan kepariwisataan. Meskipun secara umum terdapat persamaan diantara berbagai pendekatan tersebut, namun TedQual System memiliki kesesuaian tinggi karena dikembangkan secara spesifik untuk kebutuhan manajemen mutu pendidikan kepariwisataan serta memiliki kekuatan pada perumusan secara rinci dari proses yang harus dilakukan untuk menerapkannya, kurikulum yang dinamis, sumber daya manusia pariwisata yang berkualitas serta aspek-aspek pelayanan yang harus dilakukan untuk mencapai nilai daya saing. UN-WTO sebagai organisasi yang membidangi pengembangan TedQual System, menempatkan kekhasan sifat pariwisata sebagai landasan dalam pengembangan TedQual System. Lebih lanjut, penerapan pendekatan TedQual System secara efektif di lembaga pendidikan kepariwisataan diperlukan kondisi awal (pra kondisi) dan pengembangan model yang tepat untuk dapat mewujudkan output dan outcomes yang diharapkan.

 

 

 

 

 

  1. 15.  Penelitian Eko Supraptono (2008) dengan judul : “Studi Manajemen Mutu Pembelajaran (Analisis Pengaruh Faktor Kepemimpinan Partisipatif Kepala Sekolah, Budaya Sekolah, Manajemen Perubahan, Motivasi Kerja Guru, dan Komitmen Guru terhadap Kinerja Guru dan Mutu Pembelajaran di SMA Negeri Kabupaten Lebak Banten), dapat diambil kesimpulan bahwa :

Berdasarkan analisis data dapat dijelaskan : 1) kepemimpinan partisipatif kepala sekolah, budaya sekolah, manajemen perubahan, motivasi kerjaguru, dan komitmen guru memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru. 2) Budaya sekolah, manajemen perubahan, motivasi kerja guru, dan komitmen guru memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap mutu pembelajaran. 3) Budaya sekolah, manajemen perubahan, motivasi kerja guru, dan komitmen guru, serta kinerja guru berpengaruh terhadap mutu pembelajaran. 4) Kinreja guru berpengaruh terhadap mutu pembelajaran. Maka dapat disimpulkan bahwa mutu pembelajaran dapat ditingkatkan dengan meningkatkan budaya sekolah dan manajemen perubahan, kinerja guru, motivasi kerja dan komitmen guru, serta kinerja guru.

 

  1. 16.  Penelitian Nani Rahminawati (2007) dengan judul : “Penjaminan Mutu Pada Perguruan Tinggi” (Studi Kasus Pengembangan Model Audit Kinerja Dosen Pada Universitas Bandung), berkesimpulan bahwa :

Secara umum kegiatan Audit Kinerja Dosen belum terlembaga di Universitas Islam Bandung. Secara rinci sesuai dengan perumusan masalah yang dijadikan kajian dalam penelitian ini, diperoleh kesimpulan khusus, adalah : (1) Standar kinerja dosen yang ada di Unisba diturunkan dari kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yang kemudian dituangkan dalam Beban Tugas Dosen Unisba (BTDU); (2) Prosedur yang dapat ditempuh dalam Audit kinerja dosen dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap : persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan; (3) Daftar Pelaksanaan Penilaian Pekerjan (DP3) dikategorikan sebagai salah satu instrumen yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap kinerja dosen; dan (4) Model audit kinerja dosen yang secara empirik dipegunakan Unisba, adalah model audit laporan dan pengamatan aktivitas.

 

  1. 17.  Penelitian Dahman Darjat (2009) dengan judul : “Pemberdayaan Pengawas Sekolah dalam Penjaminan Mutu Pendidikan” (Suatu Studi Deskriptif Analitis Kompetensi Pengawas Sekolah pada Beberapa Sekolah Menengah Atas di Kota Bekasi), berkesimpulan bahwa :

Hasil penelitian menunjukkan : 1) Belum seluruh pengawas sekolah memiliki dan melaksanakan kompetensi seperti yang dipersyaratkan, dalam kegiatan pembinaannya sehubungan dengan upaya peningkatan mutu manajerial sekolah dan mutu pembelajaran di sekolah; 2) Hasil dari kegiatan kepengawasan belum dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan karier dan jabatan bagi guru dan kepala sekolah oleh pejabat / instansi terkait; 3) Faktor penghambat dalam kegiatan kompetensi pengawas sekolah, tidak adanya program peningkatan kompetensi pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi, pengangkatan pengawas sekolah tidak bertolak dari peningkatan karier dan profesi, belum berlakunya tunjangan jabatan kepengawasan. Sebagai faktor pendukung, secara organisatoris pengawas terwadahi sebagai jabatan fungsional, dirintisnya wajib belajar 12 tahun di Kota Bekasi, adanya bantuan transport tiap bulan.

Peningkatan kompetensi pengawas sekolah merupakan upaya pemberdayaan pengawas sekolah sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan peningkatan mutu pengelolaan sekolah dan mutu proses pembelajaran. Keberhasilan pembinaan pengawas sekolah dalam rangka penjaminan mutu pendidikan, ditandai dengan berhasilnya upaya guru untuk mencapai standar nasional pendidikan setiap mata pelajaran.

 

 

 

 

 

  1. 18.  Penelitian Rinny Dewi Anggraeni (2010) dengan judul : “Manajemen Penjaminan Mutu pada Perguruan Tinggi Kedinasan STIA LAN Jakarta, STIA LAN Bandung dan IPDN” (Studi Tentang Kompetensi Profesional, Kompetensi Personal dan Kompetensi Sosial Terhadap Kinerja Dosen Perguruan Tinggi Kedinasan STIA LAN Jakarta, STIA LAN Bandung dan IPDN), berkesimpulan bahwa :

Hasil penelitian menjelaskan bahwa jaminan mutu di PT lokus penelitian, kunci keberhasilannya adalah : (1) komitmen segenap pimpinan PT; (2) komitmen manajemen PT; (3) komitmen setiap individu dalam menjalankan sistem mutu; (4) konsistensi dalam setiap kegiatan maupun pengambilan keputusan/sikap; dan (5) ketersediaan basis data akurat yang digunakan saat pengambilan keputusan.

Kompetensi dosen adalah kemampuan seorang dosen dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Dalam hubungan ini kompetensi dosen akan berdampak pada kinerja atau prestasi dosen dan akan memberikan kontribusi terhadap kinerja perguruan tinggi serta mutu lulusan.

 

  1. 19.  Penelitian Endang Herawan (2008) dengan judul : “Manajemen Mutu pada Sekolah Menengah Kejuruan dalam Era Otonomi Daerah (Studi Kasus Pelaksanaan Manajemen Mutu pada SMKN Kelompok Teknologi dan Industri – SMKN 2 dan SMKN 8 dan SMKN Kelompok Bisnis dan Manajemen SMKN 1 dan SMKN 3 Kota Bandung), berkesimpulan :

Menggambarkan bahwa dalam upaya menghasilkan tamatan yang sesuai dengan tujuan SMK telah melakukan manajemen mutu. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan model konseptual manajemen mutu. Dan merekomendasikan bahwa (1) DU/DI sebagai pengguna utama tamatan SMK harus dilibatkan secara intensif dalam penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencaanan mutu, melaksanakan, evaluasi serta dalam upaya tindakan perbaikan, sehingga diharapkan akan terwujud hasil pendidikan yang s esuai dengan harapan dan kebutuhan DU/DI.

  1. 20.  Penelitian Hadi Mansyur (2010) dengan judul “Strategi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan yang Berorientasi pada Kepuasan Siswa” (Analisis Pelayanan Pendidikan pada Siswa Pendidikan Dasar dan Menengah di Kota Bandung), berkesimpulan bahwa :

Peningkatna mut yang realistis perlu dikembangkan melalui strategi peningkatan mutu yang dipilih untuk diprioritaskan untuk ditingkatkan maupun dipertahankan melalui 5 (lima) elemen strategi, yaitu : Arena, Vehicle, Differensiasi, Staging dan Economic Logic. Hasil strategi tersebut dikategorikan ke dalam 4 (empat) perspektif yaitu : learning and growth, internal process, customer (siswa dan stakeholders) dan financial.

Dari visi ke strategi yang menuju action yang dikategorikan ke dalam 4 (empat) perspektif tersebut, perlu diimplementasikan secara “sistem manajemen” yang bermutu yang menggunakan standar, hal ini secara sinergistik akan menghasilkan kekuatan mutu maupun penguatan organisasi sekolah yang didasari mutu proses atau perilaku-perilaku yang bermutu. Sehingga dalam menjalankan strategi, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki modal “soft competency”. Untuk menjamin keberhasilan peningkatan mutu yang dikembangkan agar dapat memperbaiki pelayanan pendidikan secara terpadu, dan terpantau melalui Key Performance Indikator yang jelas targetnya sehingga biaya yang digunakan lebih efisien namun efektif dan berdampak pada peningkatan mutu.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s